Senin, 27 Desember 2010

Resensi Novel Pudarnya Pesona Cleopatra


Kali ini saya akan meresensikan sebuah novel yang berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra. Novel ini ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Buku yang say abaca ini merupakan buku cetakan IX, Maret 2007 dengan penerbit Replubika. Novel ini merupakan novel psikologi islami pembangun jiwa. Di dalam novel ini terdapat 2 cerita yang berbeda. Cerita pertama berjudul Pudarnya pesona Cleopatra dan cerita kedua berjudul Setetes Embun cinta Niyala.
Mari kita bahas dahulu cerita pertama yang berjudul Pudarnya pesona Cleopatra. Dalam cerita ini erdapat dua tokoh utama yaitu “aku” dan Raihana. Cerita ini dimulai dengan perjodohan antara ‘aku” denga seorang gadis jawa yang bernama Raihana. Raihana merupakan seorang gadis yang cantik. Ia menutup auratnya dengan sangat baik. Selain itu Raihana merupakan wanita yang penurut dan sangat sabar.
Sedangkan “aku” adalah seorang pria yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu perguruan inggi di Mesir. Sebagai seorang yang pernah belajar di Mesir, ia menginginkan seorang pendamping dengan kecantikan wanita Mesir seperti Cleopatra. Namun karena dia seorang yang berbakti pada ibunya, maka dia menerima perjodohan dengan Raihana.
Setelah meneikah, aku tidak merasakan rasa sayang dan cinta pada Raihana. Dia tetap menginginkan sosok seorang istri seperti Cleopatra. Berbeda dengan aku, Raihana sangat menyayangi suaminya itu. Dia merupakan istri yang solehah. Selalu menurut apa yang dikatakan suaminya dan selalu mengingatkan suaminya untuk solat walaupun dalam keadaan sakit.
Setelah sekian lama, dengan segala derita berbeda yang mendera keduanya. Di satu sisi Raihana tidak pernah mendapatkan cinta dari suami, di sisi lain aku tak mampu memalingkan cintanya pada sang istri, bahkan dengan kehamilan istrinya sekalipun.

Raihana memutuskan untuk tinggal dengan kedua orang tuanya sendiri sambil menunggu saat kelahiran anak mereka. Saat-saat tanpa istri disampinglah yang pelan-pelan mulai menyadarkan aku betapa penting kehadiran Raihana dalam hidupnya.

Ditambah kemudian cerita, petuah, dan curahan hati beberapa teman dosen yang kebetulan pernah menikah dengan gadis Mesir yang ternyata menghadirkan pemahaman baru dalam diri aku, bahwa gadis-gadis Mesir tidaklah sesempurna yang dia bayangkan. Bahkan di beberapa sisi, wanita Jawa jauh lebih baik untuk menjadi pendamping hidup. Aku akhirnya sadar, betapa beruntungnya dia memiliki seorang Raihana. Istri yang Allah karuniakan meski dengan jalan yang dulunya dia anggap sebagai produk keterbelakangan budaya.
Namun pada saat aku menjemput Raihana kerumah orang ua raihana, dia mendapatkan kenyataan bahwa raihana telah diambil oleh Allah SWT karena keguguran pada saat jatuh di kamar mandi. Pada saat itu aku mulai menyadari bahwa dia sangat menyayangi dan menyesal elah menyakiti Raihana.

Cerita kedua berjudul Setetes Embun Cinta Niyala. Disini diceritakan seoranga gadis yang bernama niyala. Dia seorang mahasiswi kedokteran dari salah satu universitas negeri di Jakarta. Dia tinggal dengan sahabat almarhumah ibunya pada saat di madrasah dulu. Niyala sudah seperti anak permpuan kandungnya. Sehingga Niyala memanggil wanita itu dengan sebutan umi. Umi mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Faiq. Faiq sudah seperti kakak sendiri bagi Niyala. Faiq adalah seorang lulusan mahasiswa S1 yang berkuliah di Universitas Al-Azhar Mesir yang baru pulang ke Indonesia. Niyala dan Faiq sudah 3 tahun tidak pernah bertemu.
Setalah 11 tahun berlalu kini Niyala akan diwisuda S1 kedokteran di Universitas Negeri terkemuka di jakarta dengan hitungan hari. Namun surat penting dari ayahnya yang dikirim dengan kilat khusus dari Sidempuan yang dibaca berkali kali membuatnya sedih dan putus asa karena surat itu berisi tentang bapaknya yang terpaksa menerima pinangan dari Pak Cosmas(Kepala Desa) untuk anak bungsunya bernama Roger. Bapak Niyala(Rusli Hasibuan) menerima pinangan Pak Cosmas karena terlalu banyak hutang budi padanya. Itu terjadi saat Niyala duduk dikelas 4 SD,diberi pinjaman sawah yang kemudian dijual untuk biaya pengobatan ibunda Niyala yang terkena penyakit kenker otak meskipun Ibunda tidak bisa diselamatkan. Namun hutang Pak Rusli kepada Pak Cosmas belum bisa terlunasi dengan jumlah delapan puluh juta. Pak Cosmas berjanji jika Niyala menikah dengan Roger maka semua hutang akan terlunasi, dan Herman(kakak Niyala) bekerja dikelurahanpun karena dibantu oleh Pak Cosmas. Niyala ingin sekali menolak isi surat dari ayahnya, namun Niyala ingin melihat ayahnya merdeka dari hutang selama ini. Mengingat Roger, pernah hampir menggagahi Niyala saat SMP dan Roger pernah memperkosa teman sebangku Niyala ketika SD dan sekarang ia menjadi pelacur di daerah Brastagi.
Ditengah kesedihan, Niyala mendengar Faiq bangun untuk melakukan Shalat Tahajud dan Niyala pun ikut menjadi makmum tanpa sepengetahuan Faiq. Setelah Shalat dan berdoa Faiq mendengar tangisan Niyala yang sedang sedih mengingat paginya bapak dan kakaknya datang. Paginya mereka menjemput Bapak dan kakak Niyala. Di tengah perjalanan Niayala meminta Faiq berhenti dan menceritakan mengapa selama ini dia bersedih dan menangis. Setelah menceritakan semua, Niyala meminta Faiq untuk membantunya agar dia dapat terlepas dari penderitaannya, dengan mencitakan pada Bapak Niyala bahwa Niyala susah mempunyai calon suami. Faiq pun bersedia membantunya dengan syarat mencuci pakaian Faiq selama sebulan dan memijitnya. Niyala pun setuju.
Kedatangan Pak Rusli Hasibuan dan Herman disambut hangat oleh Umi, Pak Rusli pun bercerita tentang perkembangan Sidempuan. Malam hari, di ruang makan tampak lima orang mengitari meja bundar. Setelah makan malam usai, Pak Rusli mencitakan masalah yang dihadapi untuk menjodohkan Niyala dengan Roger putra Pak Cosmas. Mendengar permintaan Pak Rusli, umi merasa sangat sedih karena akan kehilangan anak yang selama ini dicinatinya. Namun dengan kebijaksanaannya Umi menyerahkan semua keputusan pada Niyala. Tetapai Niyala hanya bisa terdiam sambil menundukan kepala dan berharap Faiq akan membantunya bicara kepada Umi dan Bapaknya. Faiq berbicara setelah Niyala mencubitnya dan menceritakan bahwa Niyala sudah mencintai seseorang semenjak SMP. Pak Rusli, Herman dan Umi pun kaget mendengar cerita Faiq. Umi pun sedikit kecewa dan tidak percaya karena selama ini Niyala tidak menceritakan kepada Umi dan Umi merasa tidak enak karena tidak merasa berhasil mendidik Niyala dengan baik. Lalu Umi pun bertanya kepada Faiq siapa seseorang yang selama ini Niyala cintai. Faiq pun menjawab nama lengkap lelaki tersebut yang tak lain adalah Faiq sendiri. Faiq pun menjelaskan hubungan sebenarnya dengan Niyala yang tidak sekandung, agar mereka memakluminnya. Niyalapun terkejut mendengar penjelasan dari Faiq. Dia pun bertanya apakah ini hanya sandiwara atau serius. Faiq menjawab pertanyaan Umi dan Niyala dengan serius dan meminta restu dari Umi dan pak Rusli. Faiq memberitahu kepada Umi dan Pak Rusli bahwa akad nikah telah disiapkan malam itu juga, maka Faiq meminta Umi,Niyala,Pak Rusli dan Herman untuk bersiap berangkat keacara akad nikah. Niyala yang berbalut baju pengantin dari Turki sangat terlihat cantik, akad nikah pun berjalan dengan khitmat dengan mahar sebuah mushaf, uang tunai 85 juta rupiah dan hafalan Ar-Rahman. Lalu dilanjutkan dengan pesta walimah yang dimeriahkan grup Rabana dan selawat remaja mesjid yang tampil, tidak ketinggalan puisi yang dibacakan seorang anak TPA yang dibuat sendiri oleh Faiq pada saat kuliah. Pesta Walimah berakhir pada pukul dua belas kurang sepuluh menit. Malam harinya Umi bertanya pada Faiq dari mana ia mendapatkan biaya sebanyak itu?, Faiq pun menjelaskan pada Umi. Selama Faiq mendapat beasiswa S2 di London, Faiq bekerja part time menjaga toko dan dapat mengajar tawaran mengajar bahasa arab di islamic centre. Dan gajinya ditabung, sehingga bisa membiayai pernikahan ini. Faiq mempunyai sisa tabungan 15 poundsterling untuk membiayai Niyala S2. Lalu Faiq mengatakan mencintai Niyala sejak SMP itu bohong, sejak dulu Faiq menganggap Niyala adiknya. Faiq mulai mencintai niyala sejak Umi mengungkapkan rasa tidak biasa berpisah dengan Niyala. Niyala pun timbul rasa cinta dengan Faiq saat musyawarah dengan Umi, Bapak, Herman, dan Faiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar