Kamis, 30 September 2010

Autobiografi Dania Iriyani


Namaku Dania iriyani. Aku adalah seorang anak perempuan dari pasangan Heryanto dan Ani Siti Sofani. Aku merupakan anak pertama di dalam keluargaku. Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Fajar Apriyanto. Aku lahir di Kota Bandung tanggal 17 Desember tahun 1989. Irin adalah nama panggilanku. Bisa dibilang nama itu adalah nama informalku. Karena hampir semua orang memanggilku dengan nama Irin. Sedikit sekali yang memanggilku Dania. Hanya pada saat aku di sekolah atau di kampus saja aku biasanya memanggil Dania. Maka jangan heran jika kalian datang kerumahku dan tidak mengenali siapa Dania. Karena sedikit tetanggaku yang mengenaliku dengan nama Dania.

Masa kecilku dihabiskan di kota kelahiranku di Bandung. Disana aku tinggal bersama nenek. Aku sangat dekat dengan dia. Dan bisa dibilang aku merupakan cucu kesayangannya. Mungkin itu disebabkan karena aku adalah cucu pertama bagi dia. Karena itu aku sangat terpukul saat mengetahui bahwa nenekku dipanggil Allah saat aku duduk di kelas 2 SMP.Aku merasa nyaman tinggal disana karena semua keluarga besarku tinggal disana. Namun pada saat aku masuk TK kecil, aku pindah ke Jakarta. Tepatnya di daerah Cilandak. Aku pindah disana karena memang ayahku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Tetapi aku kembali pindah ke Bandung pada saat ibuku mengandung adikku. Aku menghabiskan waktu TK besarku di Bandung. Pada saat itu aku bersekolah di Taman Kanak-kanak Bandung Raya. Namun aku harus pindah kembali ke Jakarta pada saat aku mulai masuk di Sekolah Dasar (SD). Kini aku tidak tinggal di daerah Cilandak lagi. Rumahku berada di daerah Bintaro. Dan itu merupakan rumahku yang aku tinggali sampai hari ini.

Aku menghabiskan waktu 6 tahunku di SD Negeri Jombang 5. Kehidupan di SD masih terasa santai. Pelajarannyapun belum terlalu sulit. Aku juga bersyukur karena saat SD aku selalu menempati ranking pertama disekolahku. Aku selalu dapat beasiswa baik dari sekolah maupun dari kantor ayahku selama 6 tahun berturut-turut. Sampai akhirnya ujian masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dimulai. Aku mendaftar di SMP yang patut diperhitungkan di daerahku. Dan aku juga besyukur karena aku masuk di SMP Negeri 2 Ciputat yang kini berubah namanya menjadi SMP Negeri 3 Tangerang Selatan. Di SMP aku mulai merasakan kesulitan pada pelajarannya. Di tambah lagi siswa-siswa disana merupakan siswa-siswa yang pintar. Sainganku dalam meraih prestasi semakin sulit. Walaupun aku tidak masuk dalam ranking 3 besar, namun aku masih bersyukur karena aku masih masuk ranking 5 besar pada saat itu. Dan aku masih bisa mendapatkan beasiswa dari kantor ayahku selama 3 tahun itu.

Selepas dari SMP, aku melanjutkan sekolahku dengan masuk di SMA negeri 1 Pamulang yang menjadi SMA Negeri 3 tangerang Selatan. SMA-ku juga cukup patut diperhitungkan di daerahku. Di SMA aku masih menduduki ranking 5 besar di kelasku. Dan aku juga masih mendapatkan beasiswa dari kantor ayahku. Saat aku di SMA, aku masuk dalam program IPA dan kelasku merupakan kelas unggulan di sekolahku. Aku hanya mampu mendapatkan ranking 10 besar di kelasku. Dan aku mulai merasa kesulitan dengan pelajaran-pelajaran di kelas IPA. Sesekali aku merasakan kejenuhan pada saat belajar. Aku bukan salah satu siswa yang ikut dalam geng-geng yang ada di sekolahku. Bukan juga seorang siswa yang cukup terkenal. Mungkin karena aku sibuk dengan kelas IPA-ku. Namun aku bersyukur karena aku diberi kesempatan untuk ikut dalam olimpiade biologi pada saat itu. Jadwalku sangat padat. Selepas pulang sekolah aku harus mengikuti pelatihan IBO (International Biology Olimpiade) disekolahku. Aku mampu masuk dalam turnamen IBO walaupun hanya sampai tingkat kabupaten. Di tahun ketiga, aku kembali disibukan dengan bimbingan belajar untuk memaksimalkan pelajarnku dalam Ujian Nasional. Ujian Nasional pada tahun itu sangat berat. Dan itu membuatku merasakan stres yang luar biasa. Tak jarang aku menangis karena saking takutnya. Namun aku kembali bersyukur karena aku dapat melalui ujian tersebut dengan hasil yang memuaskan.

Selepas aku lulus SMA aku mulai disibukan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Aku sangat berminat dengan arsitektur dan sipil. Aku sangat mendambakan bahwa suatu saat nanti aku dapat menjadi seorang arsitek ataupun sipil. Maka akupun daftar UMB (Ujian Masuk Bersama). Saat itu aku memilih jurusan arsitektur dan sipil Universitas Indonesia (UI). Aku sangat yakin dengan jawabanku namun ternyata aku tidak lolos ujian tersebut. Aku sangat depresi saat itu karena itu adalah impianku dari kecil untuk masuk di kampus dan di jurusan yang aku mau. Kemudian aku ikut test ujian masuk program ektensi Universitas Indonesia dengan jurusan yang sama. Namun aku gagal lagi dalam ujian tersebut. Lalu akupun ikut daftar lagi dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk menghabiskan rasa penasaranku. Pada SNMPTN, aku mengambil tes IPC (Ilmu pengetahuan Campuran (IPA-IPS)). Aku mengambil kampus dan jurusan yang sama dalam pilhan IPA dan saat pilihan IPS aku mengambil jurusan psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pada SNMPTN aku diterima masuk di jurusan psikologi UPI namun itu tidak membuatku gembira. Karena aku tetap tidak masuk dalam kampus dan jurusan favoritku. Aku sangat depresi dan setres. Orang tuaku tidak mempermasalahkan aku masuk mana dan di jurusan apa. Aku diberi kebebasan untuk memilih. Lalu setelah pemikiran yang panjang aku tidak mengambil jurusan psikologi hasil seleksi SNMPTN. Itu karena aku berfikir bahwa aku tidak bisa jauh dari ibuku pada saat itu. Hingga pada akhirnya aku memilih Universitas Gunadarma dan mengambil jurusan Sistem informasi. Ada sedikit rasa tidak semangat saat pertama-tama masuk kuliah. Karena ini bukan jurusan dan kampus yang aku inginkan sebenarnya. Namun aku ingat dengan perkataan teman dekatku Heru Prasetyo. Dia berkata bahwa mungkin ini adalah jalan terbaik yang diberikan Allah untukku. Akan ada maksud tersembunyi yang diberikan Allah untuku. Dan mungkin saja jalannya ada di kampus dan jurusan ini. Aku selalu ingat kata-kata Heru . Dia selalu membingbingku dan menguatkan hatiku saat aku mulai jenuh di jurusan ini. Hingga aku yakin dan sadar bahwa berlian akan tetap menjadi berlian meskipun dia berada dimanapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar